Langsung ke konten utama

selangkah lagi.

kamu pernah bilang bahwa kamu udah baik-baik aja, kamu nggak bohong. kamu bisa kerja seperti biasa, main kemana-mana bareng teman-teman, udah bisa ketawa-ketiwi kaya biasa, enjoying and living your life. 


tapi akan jadi bohong kalo kamu bilang kamu selalu baik-baik aja.

terkadang, tamu-tamumu masih datang lagi.


masih membuatmu tiba-tiba terbangun di jam 1, 2, atau 3 pagi. dan di tengah dorongan kuat untuk mengirim pesan seperti dulu, di saat itu juga kamu sadar, oh. ada berbagai cara untuk menjawab pesan, dan tidak menjawab sama sekali pun adalah salah satunya. dan karena pesan yang tidak terbalas itu rupanya masih menyakitkan untukmu, maka kamu memutuskan bahwa pesan yang kini bisa kamu kirimkan adalah adalah pesan padaNya. pesan permohonan, semoga hatimu Ia lapangkan dan ikhlaskan; semoga sedih dan gelisahmu Ia ringankan; semoga marah dan kecewamu Ia lembutkan.


doamu masih sama.

di malam-malam lain ketika tamumu sekali lagi mengajakmu melepaskan tangis yang redam,

malam-malam ketika kamu menerka-nerka apakah seseorang di sisi lain bumi menanggung perih yang sama, tp kamu sadar bahwa mungkin saja ia sudah merasakannya jauh lebih banyak dari yang seharusnya, atau mungkin bahkan ia tidak merasakannya sama sekali, dan yang manapun kini bukan urusanmu lagi,

malam-malam lain ketika kamu menyesali mungkin membuka pintunya terlalu lebar, tapi lalu sadar bahwa it takes a lot of courage to be vulnerable, especially when it was your first time, and that's not a mistake,

atau di malam-malam lainnya, ketika kamu menerka apakah hal-hal baik terjadi di sisi lain bumi yg jauh.


malam ini, izinkan aku menambahkan sepotong doa yang lain.

semoga, perlahan-lahan, kamu nggak lagi menunggu tamu-tamumu datang berkunjung kembali.

semoga, sedikit demi sedikit, kamu bisa kembali mendoakan kebahagiaannya dengan tulus. dan juga kebahagiaanmu.

semoga, perlahan-lahan, kamu menyadari bahwa kamu lebih dari sekedar penyambut tamu. 

dan misalpun tamu-tamu itu ternyata perginya masih lama, semoga kamu nggak lantas takut untuk keluar rumah. kembali menyambut cahaya dengan cerah yang sama. 


karena ternyata, yang paling aku takutkan dari semua duka ini bukan bagian ditinggalkannya. karena toh kamu juga sudah siap untuk melepaskan. aku lebih takut kehilangan kamu—yang siap menerima dan mencurahkan cinta, dari dan untuk seluruh dunia. yang berbinar-binar menyambut hal-hal baik; dan mengizinkan diri untuk menikmatinya.


i know you can handle pain well,

now i hope you can handle joy and compassion too. 


rabbana maa khalaqta hadza bathila. subhanaka faqina adzab annar. 

Komentar