Langsung ke konten utama

dua tahun terakhir dan tamu-tamunya yang baik

haloo!

gimana kabarmu? sehat?

gimana beberapa hari pertama 2026? apakah sejauh ini lebih mudah dilewati dibanding dua tahun terakhir?

hari ini kita ngobrol sebentar yuk.


sejujurnya, menulis catatan akhir tahun rasanya sulit sekali terutama dua tahun terakhir ini. hehe. bingung mau mulai dari mana. rasanya kayak.. terlalu banyak dan besar untuk diproses? bohong kalau kamu bilang nggak berat. berat banget. montang-manting. 

tapi kok yo suprisingly, you survived. 

babak belur memang, tapi penuh syukur.

nah karena catatan-catatanmu yang lain sudah membahasnya sepotong demi sepotong tiap kejadiannya, mari sekarang kita coba sederhanakan sedikit secara umum agar lebih mudah dicerna. kita coba pilih satu kata ya.


grief. duka.

rasanya dua taun terakhir ini kamu berduka berkali-kali, ya? tiga kali, setidaknya.

dan meskipun sudah mengalaminya di awal, ternyata duka-duka berikutnya pun nggak kemudian jadi lebih mudah. masih tetap berat dan menyakitkan.

kamu jadi belajar bahwa grief nggak selalu tentang kehilangan orang yang pergi karena kematian.

duka, ternyata lebih luas dan kompleks dari apa yang selama ini kamu pelajari dan pahami. kurasa pada dasarnya duka adalah sekumpulan emosi, reaksi, dan proses yang terjadi ketika kita kehilangan koneksi dengan seseorang atau sesuatu yang signifikan. tentu kematian adalah salah satu penyebab dan konteksnya, namun tidak terbatas pada itu.

lebih dalam lagi, ketika koneksi itu terputus, kamu nggak hanya berduka atas kepergian orang tersebut, dhohir maupun bathin. kamu juga berduka atas waktu dan memori yang telah dilewati bersama. atas rencana-rencana masa depan yang telah disusun bersama. atas kesempatan-kesempatan dan kemungkinan-kemungkinan yang kamu kira masih kamu punya bersamanya. bahkan, ini yg baru kamu temukan juga: kamu juga berduka atas bagian atau sisi-sisi dirimu yang nggak lagi kamu temui setelah orang itu pergi.

dan sayangnya (atau untungnya?), duka-duka itu nggak datang sekaligus. hari ini datang satu, besok datang lagi yang lain. saat kamu berpikir, oh mungkin aku udah selesai berduka—tidak. atau belum. ternyata besok atau dua hari lagi, duka yang lain datang.


di situlah kita jadi belajar juga soal tahap berduka.

when we first studied about 5 stages of grief, we didn’t know they weren't actually stages. when we're in it, it feels much more like a loop, and we can go through it every single day. wkwk. once we thought maybe we’re about to reach the point of acceptance—nope. not yet. then we’ll find ourself back in the loop.

kita harus berputar-putar lagi di setiap tahapnya. bahkan pada satu duka yg spesifik. dan terkadang, rasanya melelahkan sekali.


sebelumnya seperti itu, sampai akhirnya kamu menemui psikolog—untuk yg kesekian kalinya dalam dua tahun terakhir (ya, psikolog juga butuh psikolog yg lain).

dalam sesi itu, kamu menyadari bahwa kamu punya hubungan yang kurang baik dengan satu emosi spesifik yg datang bersama dengan duka: si marah. bersama psikolog, kamu menemukan bahwa si marah ini disadari sebagai emosi yang kamu nggak tahan berlama-lama bersamanya. ada bagian dari dirimu yang secara sadar atau nggak sadar, memandang si marah ini bukan sebagai emosi yang baik. dia ditekan, dihindari, ditolak, baik secara sadar maupun engga. bahkan kamu marah pada si marah. akhirnya si marah ngga terproses dengan baik, kebutuhannya nggak didengar atau dipenuhi. itulah yang membuat intensitasnya masih sama, dukanya berulang-ulang seakan-akan kejadiannya baru kemarin.

psikolog bilang, kamu punya PR untuk membangun hubungan yang lebih sehat dengan marah. tujuannya bukan untuk menghilangkan atau meredakan rasa marah seketika, tapi untuk duduk bersamanya, mendengarkan kebutuhannya, dan mencoba memenuhi kebutuhan itu secara adaptif.

waktu itu kamu memahaminya, tp belum menemukan cara yg tepat untuk betul-betul memenuhi kebutuhan dari rasa marah itu secara adaptif. karna kamu masih berpikir, gimana bisa memenuhi kebutuhan si marah sedangkan marah ini destruktif sekali?


lalu ternyata pola ini terjadi lagi pada duka selanjutnya. kali ini dengan emosi yang lebih beragam. ada si sedih, si menyesal, si kecewa. bahkan si rindu. hubunganmu jadi membingungkan dengan mereka. terkadang rasanya nggak tertahankan. sesak.

kamu berhasil menyadari kehadiran emosi-emosi itu, berusaha memprosesnya, tapi dengan tujuan untuk meredakan mereka. tameng-tameng yang bisa bicara bernama rasionalisasi dan intelektualisasi pun mulai berdatangan. membuatmu tenang sebentar, tapi pada kesempatan berikutnya mereka datang, kamu bertanya, “apa lagi? kukira kita sudah selesai?” lalu ternyata selanjutnya malah semakin menyesakkan.


menurutmu, salah satu proses tersulit dari kehilangan ini adalah, ada banyak sekali pertanyaan yang masih terus bermunculan, beriringan dengan hadirnya emosi-emosi tadi. kenapa ini terjadi, kenapa orang itu begitu, gimana ya kalau dulu aku begini, apa yang aku lewatkan, aku tau ini untuk yg terbaik, tp kenapa rasanya sulit sekali—awalnya mempertanyakan sikap orang lain, masa lalu, kemungkinan di masa depan, lalu lama-lama mulai mempertanyakan diri sendiri.

dan disitulah kamu menyadari PR lainnya: bagaimana agar duka dan kehilangan nggak menjadi loop yang nggak sehat. kamu butuh menutup loop itu dengan jawaban. memang ada saat-saatnya nggak tertahankan untuk menanyakan jawabannya pada orang lain, yang mana sebetulnya sah-sah aja jika memungkinkan, dan mungkin bagus juga untuk reality check. pun kamu juga merasa penting mencari jawabannya agar kamu bisa belajar, agar hal buruk ini nggak terjadi lagi di masa depan.

namun sayangnya, sejauh manapun kamu mencari jawabannya, di titik ini sebagian besar pertanyaan itu ternyata perlu kamu jawab sendiri.


maka itulah yang kamu lakukan: kamu menemui duka-duka itu. duduk bersamanya dan menjawab pertanyaan-pertanyaan yang ia ajukan. kamu nggak lagi berlarian menghindarinya.

dan setelah kamu mencoba menjawab satu per satu pertanyaannya sejujur mungkin, sebuah kesadaran akhirnya hadir: duka-duka ini rupanya adalah rasa sayang yang berubah wujud karena bingung mau pergi kemana setelah objeknya tidak lagi terjangkau.

dan entah bagaimana, dari sanalah pertanyaan-pertanyaan itu hadir. ia membutuhkan jawaban dan alasan untuk kembali merasa nyaman dengan dirinya sendiri; setelah bagian-bagian dari dirinya seakan-akan ikut pergi bersamaan dengan kehilangan itu terjadi.


maka sejak itu, kamu mencoba memperlakukan duka sebagai tamu yang baik.

tamu yang sesekali datang untuk mengingatkanmu bahwa kamu pernah memiliki rasa sayang yang sebegitu besarnya; pada sosok, pada kenangan, pada waktu-waktu yang telah dihabiskan bersama, pada waktu-waktu yang kamu kira masih kamu punya bersamanya, dan juga pada bagian-bagian dari dirimu yang terbentuk bersamanya.

dengan begitu, kamu nggak lagi mengutuk duka itu ketika ia tiba-tiba menyapamu di waktu-waktu dan tempat-tempat acak yang nggak terduga: saat kamu menemukan nama atau fotonya yang ada dimana-mana, pada kaos dan baju, pada lagu-lagu spesifik dalam playlistmu, pada jajanan yg kamu tau ia suka, pada potongan-potongan percakapan yg masih terekam di hape dan kepalamu, pada saat-saat membingungkan dan kamu ingin sosok itu ada disana untuk membimbingmu. juga pada saat-saat bahagiamu, dan kamu ingin ia ada disana untuk merayakannya bersamamu—karena ia (atau lebih tepatnya mereka) pulalah yg membawamu sampai ada di titik itu.

tamu itu seringkali hadir membawa teman: kadang si marah, si sedih, si kecewa, si menyesal, si rindu, dkk. kamu coba menyapa temannya satu per satu, lalu bertanya mereka butuh apa. biasanya kamu diminta untuk mengambil jeda sebentar. dalam jeda itu, kadang kamu diajak menangis, kadang diajak untuk memutar kembali potongan-potongan memori yang membawa ragam emosi yang memenuhi dadamu, kadang kamu diajak untuk terkoneksi kembali dengan orang-orang tersayang yang masih ada di sekitarmu, kadang kamu diajak berbincang—untuk mencoba menemukan jawaban atas pertanyaan-pertanyaan lain yang mereka ajukan. dan seringkali, ini yg paling kamu suka, tamu itu berusaha mengajakmu menemui kembali sosok-sosok yang kamu rindukan itu melalui doa. sedalam-dalamnya, setulus-tulusnya.

dalam proses ini kamu belajar untuk menemukan dan mencoba memenuhi kebutuhan mereka, bukan keinginan. apa yang tamu-tamumu butuhkan, yang bisa kamu penuhi dengan tetap memperhatikan nilai yg kamu pegang? apa yang tamu-tamumu butuhkan, yang bisa kamu penuhi tanpa sekali lagi menyakiti dirimu sendiri?


ketika dijamu dengan baik, tamu-tamu itu ternyata malah membantumu menyusun kembali bagian-bagian dirimu yang sebelumnya kamu kira ikut hilang bersamaan dengan perasaan kehilangan seseorang tersebut. rupanya bagian-bagian itu nggak pergi kemana-mana, mereka hanya tercerai-berai. bagian-bagian itu terbentuk dan tumbuh bersama dengan orang-orang yang kamu sayang, yang ketika mereka pergi, bagian-bagian itu seolah kehilangan pegangan. dan kamu baru menyadari bahwa perlahan-lahan mereka bisa kembali menyatu, ketika kamu membangun hubungan yang lebih baik dengan dukamu.

lalu ketika tamu itu selesai bertandang dan sudah siap untuk pergi lagi, kamu juga siap untuk melepasnya, 

melambaikan tanganmu padanya dengan senyuman.


menyapa duka memang nggak mudah. seringkali membuatmu nggak nyaman. duduk bersamanya pun membutuhkan waktu dan energi. namun dengan cara ini, rupanya tamu-tamu itu nggak lagi menyebalkan—sebagaimana yang kamu persepsikan sebelumnya. frekuensi dan intensitasnya pun nggak lagi mengganggumu.


nggak ada batas waktu dukamu untuk benar-benar selesai. selama rasa sayang itu masih ada, selama itu pula duka itu akan terus sesekali datang. dan kamu (ingin terus) percaya, kapasitas menyayangi tidak pernah menjadi sebuah kelemahan.

yang sedang kita upayakan disini adalah, bagaimana agar duka itu nggak menjadi tamu yang marah lalu bertindak merusak; menggedor-gedor pintu depanmu, merusak kaca rumahmu, membuatmu lelah dan sulit melakukan hal-hal penting lain dalam hidupmu yang masih terus berjalan, lalu kamu malah memprotes Yang Menciptakan tamu itu dan teman-temannya, “kenapa semua ini terjadi?” padahal dari awal kamulah yang nggak memberikan kesempatan untuk mereka bertamu, atau mengusir mereka sebelum mereka siap untuk pergi. atau dalam skenario lain, bisa jadi malah kamu nggak membiarkan tamu itu pergi ketika mereka sudah waktunya untuk pergi.



ya.

seperti itu akan kita perlakukan 2024-2025 dan ketiga duka di dalamnya. kita sambut mereka ketika sesekali mereka mau datang, lalu kita lambaikan tangan dengan senyuman ketika mereka sudah siap untuk pergi lagi.

dengan begitu, kita akan punya cukup ruang untuk menyambut tamu-tamu kita yang lain. perasaan-perasaan yang lain, kesempatan-kesempatan yg lain, pertemuan-pertemuan yang lain, dan mungkin juga perpisahan-perpisahan yg lain.



sigh

makasih banyak, yasmin dan siapapun yang sedang membaca catatan ini.

duka ini ternyata bawa banyak pelajaran, ya?

sekali lagi, tanpa buru-buru menyingkirkan perasaan sedih, kecewa, marah, campur aduk, mari kita juga belajar menyadari kehadiran perasaan-perasaan lain yang lebih ringan dan melegakan. syukur, bahagia, perasaan cukup, atas sosok-sosok dan hal-hal yang pergi serta yang masih bertahan.

aku juga mau kamu belajar menyadari apa yang sebenernya Allah mau kamu belajar dari perjalanan ini. sambut dan rasakan secukupnya ya. lalu mari sisihkan ruang untuk hal-hal baik lainnya datang.


makasih banyak, yasmin dan siapapun yg sedang membaca catatan ini.

terima kasih karena sudah melewati dua tahun terakhir dengan sehat dan selamat. despite of everything, you made it out alive. and I am forever grateful for that.

semoga tahun 2026 dan seterusnya membawa banyak kabar baik.

jikapun memang perlu ada beberapa kabar yang terlihat kurang baik, semoga diberikan kekuatan untuk menjalaninya dan kelapangan hati untuk belajar darinya.

semoga tahun ini dan seterusnya pun selalu dilimpahi rezeki yang datangnya bersamaan dengan kemampuan untuk menikmati dan mengelolanya.

semoga di tahun 2026 pun kita bisa terus kembali menemukan jalan menuju diri sendiri. menuju Allah. menuju kebaikan.


selamat tahun baru! 

mari kita lanjutkan langkah:)

Komentar