Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dengan label RES

Dia dan Empat Tahun Perjuangan

Puisi pilu para pujangga tentang patah hati ternyata tak pernah berbohong. Tentang langit yang tiba-tiba menjadi selalu kelabu, mereka benar. Tentang hujan yang tiba-tiba melantunkan lagu kesedihan, mereka juga benar. Pun tentang semburat merah senja yang menceritakan kehilangan, mereka sepenuhnya benar. Sebelum anda baca lebih lanjut, karena di postingan kali ini saya mau curhat ---dan curhatnya panjang sekali, monggo di-close tab dulu jika anda tidak sedang ingin membaca tulisan absurd manusia yg sedang patah hati :) Baik, mari kita mulai.

Jika Ini Bukan Cinta, Lalu Apa ?

Aku tertegun menatap matanya. Sayu. Namun tajam. Melemparkan ingatanku pada masa lalu, ketika aku pertama kali belajar bagaimana caranya mencintai. Ketika aku pertama kali belajar bagaimana caranya merelakan, dan bagaimana caranya berdamai dengan hati dan memori.  Bagaimana ini, Tuhan?

Dia

Ada yang hilang dari perasaanku yang terlanjur sudah kuberikan padamu Ternyata aku tak berarti tanpamu, berharap kau tetap disini -Ipang-   Semilir angin meniup lembut ujung-ujung rambutku. Memainkan poni yang kubiarkan menutupi dahiku. Meski sayup, kudengar teriakan heboh anak laki-laki yang masih asyik bermain sepak bola di lapangan mungil kami. Aku melirik jam tanganku. Pukul 16.12.

Aku Benci Kamu

Aku benci kamu. Kamu mengembalikan semua kenangan tentang dia yang sekian lama telah aku (coba) untuk lupakan. Setelah segala usahaku, setelah segenap ikhtiarku, kau datang tiba-tiba dan membuat mereka bermunculan kembali. Sungguh, aku membencimu. Aku benci kamu.

Selamat Jalan...

Udah dua minggu ini dia kelihatan nggak semangat hidup. Ia selalu kelihatan lesu bahkan tak merespon ketika dihadapkan makanan paling enak yg dia sukai sekalipun. Entah apa alasannya, saya nggak tahu. Mungkin dia abis ditolak? Atau diputusin? Atau dia jadi korban php? Only God knows. Saya selalu coba menghiburnya dengan ngajak ngobrol atau bersenandung di sampingnya. Tapi dia tetap bergeming. Matanya menatap kosong seakan dia udah kehilangan tujuan hidup. Ternyata suara saya semakin membuatnya ingin mati. Sebagai orang terdekatnya, saya merasa gagal.