Postingan

Menampilkan postingan dengan label Cerpen

Menjadi Kakak

Bagian terbaik dari menjadi seorang kakak adalah melihat adik kecilnya tumbuh dengan baik. Lihat dia, dia bukan lagi adik kecil yang dulu bisa kugendong dengan mudah di pundakku saat menonton pertunjukan topeng ireng di lapangan desa. Dia telah tumbuh menjadi gadis cantik yang cemerlang. Lihat? Bahkan dia sudah pintar berdandan. Bibir dan pipinya bersemu merah muda. Tapi kau tahu apa yang paling membuatnya terlihat begitu manis? Gigi kelinci dan lesung pipi yang muncul saat ia tersenyum dan tertawa. Persis seperti punyaku. Aih, sudah kubilang kan, dia benar-benar adik perempuanku. Aku tak bisa berhenti tersenyum lebar setiap melihatnya melintas. Jas putihnya melambai tertiup angin karena biasanya ia berjalan agak tergesa. Kacamatanya melorot karena hidungnya pesek, sama seperti hidungku. Kadang-kadang keningnya berkerut. Hmm, praktik kerja langsung di rumah sakit sungguhan agaknya cukup membuatnya pusing dan lelah, eh? Itulah kenapa aku selalu menunggunya disini. Tak ada yang bisa kula...

Pak Senyum, Tebar Kebahagiaan Melalui Pentol

*Note: latar dan tokoh nyata, namun cerita fiksi. Dibuat untuk memenuhi tugas membuat contoh feature pada sebuah pelatihan jurnalistik setahun silam.  *** Sore hari di jalan utama Pondok Pesantren Darul Ulum Peterongan, Jombang selalu ramai oleh para santriwan dan santriwati yang pulang dari sekolah ke asrama masing-masing. Jalan sepanjang Sungai Njoso penuh oleh canda tawa, mengudara di antara para santri yang ribut tergesa kembali ke asrama, membeli jajanan, hingga mengantri wartel untuk menelepon bapak ibu di rumah. Di antara kerumunan santriwati, berdirilah seorang lelaki paruh baya dengan senyum merekah lebar yang sedang sibuk melayani pesanan dari para pembelinya, menyunduk pentol-pentol ke dalam plastik, lalu menambahkan saus dan kecap sebagai penyedap.

Ketika Sore Datang

Aku selalu bahagia ketika sore datang. Ketika matahari beranjak pulang ke peraduan, ketika para petani membawa pulang cangkul dan kerbau mereka dari sawah, ketika para buruh mengayuh sepeda mereka keluar dari tempat parkir pabrik yang sumpek, ketika para bebek berbaris riuh digiring pulang ke kandang, ketika para bujang dan anak-anak lelaki membawa pulang bola plastik mereka setelah lelah bermain di latar dekat rumah Pak RT sedangkan para anak perempuan sudah cantik dan menebarkan wangi sabun.

Kesempatan Memilih

Jika Tuhan memberimu kesempatan untuk bisa memilih bagaimana  kau terlahir di dunia, apa yang akan kau minta? Aku tak akan meminta apa-apa lagi pada Tuhan. Tak ada yang akan kukatakan padaNya selain bahwa Dia telah memberikanku hidup paling sempurna yang bisa kubayangkan. Tak akan ada yang kuubah, cukup seperti sebagaimana seharusnya. Menikmati sore yang semilir, ditemani langit jingga yang mulai menggelap, lengkap dengan sayup-sayup suara anak-anak mengaji di surau kampung, apalagi yang bisa kulakukan selain mensyukurinya?

Asyel Juga Sayang Papa

Sejuknya tetes embun yang tertinggal pada kelopak-kelopak bunga dengan lembut membasahi tanganku. Kupu-kupu berterbangan dengan riangnya seolah menyambut kedatanganku. Aih, sudah lama aku tak merasa setenang ini. Mungkin sekitar…tiga bulan? Entahlah—aku tak begitu peduli. Aku sudah terlarut dalam sejuknya embun pagi dan hangatnya mentari yang mulai bersinar dengan lembut. “Asyel!” Tahu-tahu keningku sudah terantuk lantai. Aduh. Tunggu— lantai?

Hujan Tidak Jahat

Koridor mulai sepi, tinggal satu-dua anak saja yang masih berlalu-lalang, sebagian tergopoh ----termasuk aku. Ck, berkas-berkas ini merepotkan sekali. Selepas rapat pasti aku menjadi manusia-yang-paling-terlihat-repot-dengan-berbagai-macam-buku-dan-kertas-bertebaran. Yah, apa sih yang bisa kau harapkan dari menjadi seorang sekretaris?

Dia

Ada yang hilang dari perasaanku yang terlanjur sudah kuberikan padamu Ternyata aku tak berarti tanpamu, berharap kau tetap disini -Ipang-   Semilir angin meniup lembut ujung-ujung rambutku. Memainkan poni yang kubiarkan menutupi dahiku. Meski sayup, kudengar teriakan heboh anak laki-laki yang masih asyik bermain sepak bola di lapangan mungil kami. Aku melirik jam tanganku. Pukul 16.12.

Si Malang William

Saya cukup shocked liat note lama saya di sebuah jejaring sosial, sebut aja fesbuk. Waktu saya baca kok saya tiba-tiba nggak pengen punya masa lalu ya. Coba deh, Si Malang William 20 Oktober 2011 pukul 10:57

Tanya dari Awan

Rumput-rumput bergoyang di bawah punggungku, angin berdesir di sekitarku. Di atas sana, segumpal awan menatapku heran. "Apa yang kau lakukan disini, anak muda?" Aku balik memandangnya. Ah, ia tak akan mengerti betapapun aku menjelaskan.

Udah, Baca Aja

Kami tergesa. Berlari membelah rimbunnya semak belukar dan rapatnya pokok-pokok pohon. Keringat kami mengucur deras. Nafas kami saling memburu. Ingin rasanya berhenti sekejap sekedar menenggak air putih atau menyusun ulang nafas kami, namun kami diburu waktu. Bahkan satu detik terlalu berharga untuk dibuang. Asap merah dan deru motor yang memekakkan telinga itu terasa semakin dekat. Mengejar. Tanpa ampun menghajar apapun yang menghalangi mereka untuk menjangkau kami. Anak itu. Anak yang mendengkur di gendongan Sang-Detektif-dari-Timur. Peliharaannya yang ada di tangan Sang-Detektif-dari-Barat. Anak itu dan peliharaannya lah target mereka, geng-motor-berasap-merah. Demi keselamatan 2 makhluk mungil itu kami mati-matian berlari, mengindari gencetan motor-motor hitam metalik berasap merah yang ganas dan kejam. Demi menyelamatkan 2 nyawa makhluk mungil itu. Kami terus berlari. Seakan kami tak akan peduli seandainya kaki kami patah karenanya. Seakan kami tak akan peduli seandainya haru...

Putra Ketujuh untuk Mamah

Revi, Si Gudang Adik. Begitulah teman-temanku memanggilku. Tidak salah memang, mereka memanggilku begitu. Karena aku anak pertama dari 6 bersaudara. Kaget? Umur kami berenam rata-rata hanya terpaut 2 tahun. Aku umur 13 tahun, Rizal 11 tahun, Dyas 9 tahun, Ubay 7 tahun, Rika 5 tahun, dan Hilya 4 tahun. Kami hidup dan dibesarkan oleh Mamah dan Papah. Mamah hanya ibu rumah tangga, sedangkan Papah seorang pegawai negri. “Mamah… Kak Rizal nakal!” rengek Rika.

Badak Soge Family

Gambar
Dahulu kala, tersebutlah seorang petani bernama Edo yang sangat giat bekerja. Ia selalu menggarap sawahnya dengan rajin. Pada suatu siang yang panas, Edo berhenti sejenak  dari pekerjaannya mencangkul dan beristirahat di saungnya. Ia membuka bekal yang sudah ia siapkan sebelumnya, sekotak donat JCo. Ketika ia sedang menikmati bekalnya, Edo tersentak oleh sebuah suara. "Toloooong!! Toloooong!!"

Linda dan Ceritanya

 Aku melengos. Sudah satu jam lebih aku menunggu Ibu di gerbang sekolah. Hari ini ada pertemuan wali murid kelas 9. Tapi, entah untuk yang keberapa kalinya, Ibu tak hadir. Hampir semua temanku telah pulang bersama orang tua mereka. Dan sepertinya hanya tersisa aku disini. Sendiri. Tanpa ditemani Ayah maupun Ibu. “Hai! Melamun, ya?” Aku tersentak oleh sebuah tepukan yang cukup keras di bahuku. “Linda?”

Impian Aryo

Buka-buka folder lama dan nemuin cerpen-cerpen jaman batu itu... se-su-a-tu! :D Setelah baca-baca cerpen lama, nggak kerasa ternyata dulu aku bikin cerpennya sok banget. Dan lagi, dari sekian banyak cerpen itu, ada cerpen yang pernah dimuat di salah satu majalah desa di sekitar SDku dulu. Itu cerpen aku kelas LIMA ESDE. Demi apa... :D  Ini dia cerpennya. Selamat menikmati :3 Aryo menyeka peluh yang terus mengalir dari keningnya. Di siang yang terik itu, Aryo masih saja menyusuri gang-gang di desanya untuk mengumpulkan sampah sebanyak mungkin agar dia bisa makan sesuap nasi hari ini. Dilihatnya bangunan kokoh bercat putih di sampingnya berdiri tegak dengan bendera merah putih menjulang ke langit. Bangunan itu tidak terlalu megah, tapi Aryo ingin sekali duduk di dalamnya, mendapatkan siraman ilmu dari pahlawan-pahlawan tanpa jasa.

Penumpang Terakhir

Ini juga Cerpen yang dimuat di Spenada Magazine, edisi Agustus. Let's read it :) *** Hari sudah sore, mentari sudah lelah bersinar dan hendak tidur di ujung barat. Penumpang terakhir di bis kecilku baru saja turun. Saatnya untuk pulang ke rumah dan menyambut anak istriku dengan segepok uang hasil membawa bis kecil ini keliling jalanan. Di jalan, seorang wanita yang kepalanya terselubungi kain melambai-lambaikan tangannya. Kupikir dia hendak menaiki bisku ini. Maka kuhentikan bisku di depannya. Dan benar saja, wanita itu naik dan duduk manis di bangku paling belakang.

Senja Ketujuh

Ini cerpen yang juga dimuat di SpenMagz edisi Mei 2011. Let's enjoy it :D *** Rieka masih duduk di bangku bambu depan rumah ketika adzan maghrib berkumandang. Matanya menyorot tajam ke jalan setapak dari arah kiri, jalan dimana Bapak muncul setiap adzan maghrib hendak berkumandang. Ibu menatap lemah ke wajah Rieka, yang sekarang mulai duduk resah sembari memilin-milin bagian bawah kaosnya. “Masuk dulu, Rieka… Kita tunggu Bapak di dalam…” bujuk Ibu.

Kejadian 7 Tahun Lalu

Ini cerita pendek alias cerpen yang aku buat kelas 7, dan dimuat di Spenada Magazine, majalah sekolahku. Maklum ya kalau masih acakadut jelek. Kan amatir...  *** Aku melangkah pasti menuju kelas 8 d. Disana ada Kak Viska, kakak yang aku kenal baik lewat facebook atau biasa disebut FB. Aku memang belum pernah bertemu langsung dengan Kak Viska. Tapi dari pengamatanku selama ini lewat FB, komentar atau status Kak Viska selalu sopan tapi kocak. Dan sepertinya Kak Viska juga baik. Semalam, aku dan Kak Viska saling mengirim pesan dinding. Kak Viska bilang, dia akan mentraktirku mie ayam karena dia mendapat honor dari sebuah majalah, artikelnya dimuat. Aku senang saja diajak makan gratis. Tapi, kata Kak Viska aku harus menemuinya dulu di kelas 8 d.